
Memasuki Bulan Rabiul Awwal keindahan nada-nada sholawat kian melangit. Riuh suara gendang dan rebana menghiasi sepanjang siang dan malam untuk mengguncang ‘arsy. Tak terhingga ummat Nabi Muhammad SAW menggerakkan lisannya untuk mengahaturkan persembahan kalimat terindah, “Shollalloh ‘Ala Muhammad”, ribuan bahkan jutaan kali.
Bulan yang amat spesial. Bahkan yang hanya ikut bahagia saja dijamin oleh sang kekasih Allah bahwa jasadnya diharamkan atas api neraka. Mengingat sekelumit kisah saat kelahiran Rosulullah SAW pada hari Senin, Tsuwaibah mendatangi tuannya Abu Lahab untuk memberikan kabar bahwa keponakannya, Muhammad bin Abdullah telah lahir. Ia amat gembira dan meneriakkan pujian-pujian di sepanjang jalan. Ia pun memerdekakan budaknya, Tsuwaibah sebagai ungkapan syukurnya. Namun karena seiring berjalannya waktu keponakan yang Ia sayangi ternyata tak sejalan dengannya, rasa dendam kian menguasai dirinya hingga dia tak segan memusuhi Rosulullah SAW sampai ajal menjemputnya. Dan disinilah Allah SWT menunjukkan kasih sayang-Nya. Sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Abbas bahwa setiap hari senin Allah meringankan adzabnya karena ia telah memuliakan hari kelahiran Rosulullah SAW. Juga diriwayatkan dari Urwah bahwa Abu Lahab juga diberi minum lantaran memerdekaan Tsuwaibah. Sungguh nikmat yang agung bukan?
Jika dengan orang yang amat sangat membenci Rosulullah SAW saja Allah SWT bisa meringankan adzabnya, bagaimana dengan kita yang selalu berusaha menjadi kekasihnya? Bukankah kucuran nikmat akan semakin deras? Maka dari itu menumbuhkan cinta kepada Rosulullah SAW haruslah dipupuk sedini mungkin. Tidak perlu mengajarkan anak-anak kita straight to the point seperti yang dilakukan Rosulullah SAW pada masanya sebab masa itu sangat amat berbeda dengan sekarang. Sebagai contoh, jika dulu antarmasyarakat memiliki banyak waktu untuk berbaur, saling sharing dan bercerita tentang hikmah kehidupan karena semboyan yang mereka pakai adalah setiap waktu merupakan barokah, yang sekarang terjadi adalah sudah jarang masyarakat berbaur membicarakan ilmu dan hikmah. Jika ada perkumpulan selain majlis ilm, yang dilakukan para muda-mudi adalah sibuk dengan gadget atau mungkin membicarakan aib dan keburukan saudaranya, na’udzubillahi min dzalik. Dan inilah yang perlu diperbaiki. Misalnya jika sedang berkumpul boleh untuk mengumpulkan semua HP dan digunakan untuk membaca satu lembar Al-Qur’an atau bersholawat dan dilanjutkan dengan membahas isu-isu kehidupan dan apa solusinya selama setengah jam sampai satu jam. Setelah diskusi berakhir bolehlah saling melempar candaan yang baik tentunya. Indah bukan?
Hari jum’at, merupakan hari berkumpul seluruh murid dan ustadzah di Lembaga Ma’arif NU Hasyim Asy’ari. Berkumpul untuk tahlil dan doa Bersama. Namun pada pagi itu, Jum’at 13 September dalam rangka menyambut hari kelahiran Rosulullah SAW para murid dan ustadzah melantunkan sholawat bersama-sama. Acara dibuka dengan lantunan sholawat bersama dilanjutkan pembukaan dan tahlil. Lalu berdiri untuk mensyairkan Mahallul Qiyam Maulid Ad-Diba’I karya Al-Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad-Diba’I As-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi As-Syafi’i dan ditutup dengan memakan bekal masing-masing. Jika biasanya makan bersama dilakukan di ruang makan dengan menu dari sekolah, kali ini anak-anak diperbolehkan membawa bekal sendiri dari rumah dengan menu makanan yang mereka suka.
“Alhamdulillah acara maulid kali ini berjalan dengan baik dan khidmah. Meskipun hanya sederhana, kami harap dengan adanya acara ini bisa semakin menumbuhkan rasa cinta kami, khususnya anak-anak kepada Baginda Rosulullah SAW.”, Ungkap Ustadzah Mufidatul amali selaku kepala sekolah dan dokumentor pada acara pagi itu.
“Betul. Dan selain melalui acara seperti ini hendaknya kita sebagai pendidik juga harus terus mengenalkan siapa sosok Rosulullah SAW kepada anak-anak dan apa kontribusi beliau dalam memajukan islam. Sekarang generasi muda sedang tidak baik-baik saja karena mereka kekurangan sosok tauladan akibat tarbiyah yang kurang mensyiarkan ajaran dan amalan Rosulullah SAW dan para sahabatnya. Oleh sebab itu penting sekali untuk selalu disiplin dalam memberi contoh yang baik kepada anak-anak. Jangan sampai lupa selalu menyertakan nama Rosulullah SAW setiap memberikan contoh yang baik itu”, tambah Ustadzah Atin, wali kelas Bariklana.
Semoga dengan lantaran sholawat dan niat kita mengikuti sunnah-sunnah Rosul kita tetap diakui sebagai ummatnya dan mendapat syafaatnya kelas fi yaumil hisab. Aamiin….














