
Sejak risalah kenabian disempurnakan, agama Islam menjadi semakin indah. Bagaimana mungkin seorang yang ummi bisa menyebarkan ajaran yang baik dan penuh kasih sayang jika tidak ada kekuatan besar yang mendorong beliau untuk tetap maju meskipun rintangan datang setiap saat. Dan the big power itu adalah Allah SWT dengan memberi Rosulullah SAW bekal yang sangat kuat berupa Al-Qur’an.
Al Qur’an merupakan wahyu yang sempurna. Berisi petunjuk, cerita, hukum, akidah, ibadah, akhlak sampai ilmu pengetahuan yang relevan sampai akhir zaman. Jika manusia mau berteman dengan Qur’an, niscaya semua permasalahan hidup akan dengan sangat mudah mendapat jalan keluar.
Salah satu perintah Allah SWT dalam Qur’an yang banyak diulang adalah perintah sholat. Siapapun yang telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka sholat harus menjadi rutinitas yang tidak boleh iya tinggalkan selama nafasnya masih berhembus.
Bukankah Islam agama yang baik? Bukankah Allah maha pengasih lagi penyayang? Kenapa harus membebankan sholat pada hamba-Nya sehari lima kali dan bagi yang meninggalkan akan mendapatkan dosa?
Islam mengatur hamba-Nya untuk bermuamalah kepada manusia dan tuhan dalam porsi yang sangat pas. Sejak fajar belum menyingsing hingga matahari kembali ke peraduan, manusia melakukan banyak hal. Bekerja, belajar, mengajar, bermain, berbincang dan tak sedikit mereka melakukan kesalahan dan dosa. Pekerjaan yang terus-menerus dilakukan tanpa istirahat pasti membuat stress dan berakibat tidak bisa mengontrol diri. Maka dengan sholatlah manusia berhenti sejenak, menenangkan diri dan kembali kepada Sang Pencipta. Berkeluh kesah, meminta solusi terbaik untuk langkah dalam hidupnya.

Bagi anak-anak, tentunya sholat bukan tuntutan. Memperkenalkan sholat pada anak tidak perlu penuh dengan ancaman “kalo g sholat masuk neraka lho”. Apalagi semakin zaman berganti, pemikiran anak-anak semakin kritis. Mereka akan terus mencari bukti tentang perkataan orang dewasa. Nalar mereka memang indah dan terkadang rumit. Karena belum bisa membayangkan neraka dan neraka tidak nyata di hadapannya, bisa jadi mereka menganggap itu hanya gertakan sambal. Sebagai orang yang sudah memenuhi syarat sholat, sebagai orang dewasa, kita hanya perlu memberikan contoh yang baik dengan cara selalu “excited” saat akan melakukan sholat. Dan jika anak-anak masih banyak bergurau, tak perlu banyak protes dan nikmati saja proses. Meminta anak-anak ikut sholat di usia dini, 3-6 tahun bukan keharusan. Perintah melakukan sholat usia 7 tahun. Dan baru dipukul saat meninggalkan sholat di usia 10 tahun. Jadi kenapa harus terburu-buru menuntut mereka untuk sholat dengan benar?

Di KB Hasyim Asy’ari ini, praktek sholat selalu kami lakukan di hari Jum’at. Hari Jum’at khusus untuk melakukan praktek ibadah baik praktek yang sering dilakukan untuk diri sendiri seperti sholat, wirid dan berdoa ataupun di masyarakat seperti tahlil. Kami berharap dengan nilai-nilai yang kami tanamkan di sekolah ini dapat terus menjadi kebiasaan baik hingga mereka dewasa. Dan bahwa hidup bermasyarakat sangatlah penting. Berdoa dan tahlil bersama di masyarakat akan menumbuhkan kerukunan dan kepedulian antarsesama. Kalau mencontohkan sholat kepada anak-anak dianggap percuma sebab akan “dicuekin” karena masanya masih bermain, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Kami percaya kebaikan walaupun sedikit tidak akan sia-sia. Justru dengan membentuk habit yang baik untuk anak usia dini, anak-anak akan semakin siap dan kuat untuk melangkah ke depan. Apalagi yang diajarkan berlandaskan ketuhanan dan keagamaan.









